Bersekutu Dengan Ratu Siluman Babi (1)


Babi siluman mawuiud dalam bentuk wanita cantik yang menggairahkan. Lelaki mana pun yang sanggup memenuhi hasrat seksnya, ia akan kaya raya. Tapi jika ia tak sanggup memuaskannya, tunggulah ajalnya.

Orang yang memuja ratu siluman babi ini, akan di ikat dengan sebuah perjanjian gaib. Dia harus melayani si ratu berhubungan seks setiap 35 hari sekali. Si pemuja akan jadi korban, jika dia tak sanggup lagi melayani napsu seks si ratu yang haus seks.

Ratu siluman babi ini, merupakan penguasa gaib sebuah bukit kecil bernama Si Kambang, yang ada diwilayah Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo, Jateng.

Si Kambang, meski hanyalah perbukitan kecil, namun keberadaannya sangatlah dikeramatkan hingga kini. Legenda setempat menyebutkan, munculnya bukit ini terjadi akibat pertempuran antara Hanoman dan Rahwana. Kala itu Hanoman berniat menimbun Rahwana dengan menjebol sebuah gunung. Nah, ketika gunung ini dibawa terbang, ada sebagian yang berjatuhan. Salah satunya menjadi bukit Si Kambang ini.

Disebut dengan Si Kambang, karena saat serpihan gunung ini jatuh, daerah tersebut merupakan rawa-rawa, sehingga terlihat seperti mengambang di air. Meski luas bukit Si Kambang tak seberapa, namun tak sembarangan orang berani menaiki bukit ini.

Sejak jaman dulu, bukti Si Kambang memang dikenal sebagai tempat untuk mencari pesugihan. Masyarakat menyebutnya dengan sebutan pesugihan Putri Celeng. Disebut demikian, karena yang dipuja para penganut pesugihan ini, seorang ratu siluman babi.

"Dia itu penguasa gaib bukit Si Kambang ini. Dia bersemayam di sebuah goa gaib bernama Si Golo-golo" papar Mbah Karyo Wijoyo (70), juru kunci bukit Si Kambang.

Pesugihan dengan memuja ratu siluman babi penguasa bukit Si Kambang ini bisa terlaksana, karena terjadinya persekutuan gaib antara ratu siluman babi sebagai pemberi kekayaan, dan manusia sebagai pemujanya. Adanya pesugihan bukit Si Kambang ini, bermula dari kisah perjalanan ratu siluman babi itu sendiri. Kisah ini sendiri terjadi, ratusan tahun silam, tepatnya pada jaman kerajaan Majapahit masih berdiri, di jaman Prabu Brawijaya. Entah pada Raja Brawijaya yang keberapa, Majapahit kala itu. Ceritanya, menurut penuturan Mbah Karyo, bukit Si Kambang kala itu dalam kekuasaan ratu siluman babi bernama Dewi Penjalin. Suatu hari, Prabu Brawijaya tengah berburu binatang di hutan seorang diri. Dari perjalanan berburunya itu, Prabu Brawijaya sampai di bukit Si Kambang, dan bertemu dengan seorang putri cantik bernama Dewi Penjalin, yang sebenarnya seorang ratu siluman babi.

"Melihat kecantikan Dewi Penjalin, Prabu Brawijaya menjadi terpikat. Keduanya jatuh cinta, yang dilanjutkan dengan berhubungan intim," cerita Mbah Karyo.

Untuk sementara waktu, Prabu Brawijaya tinggal di bukit Si Kambang. Karena sedang dilanda asmara, keduanya selalu menghabiskan waktu sehari-harinya dengan berhubungan intim dan memadu kasih. Setelah 40 hari lamanya tinggal di bukit Si Kambang, Prabu Brawijaya pamit pada Dewi Penjalin untuk melanjutkan perjalanannya. Sebelum pergi, Prabu Brawijaya meninggalkan sebuah tombak pusaka sambil berwasiat, jika nanti jabang bayi yang dilahirkan Dewi Penjalin menanyakan siapa orang tuanya, agar datang ke Majapahit dengan membawa tombak pusaka tersebut.

Hingga akhirnya, jabang bayi yang dikandung Dewi Penjaiin benar-benar lahir, yang ternyata lahir perempuan, dan diberinya nama Dewi Kemuning. setelah beranjak dewasa, Dewi Kemuning menanyakan siapa ayah kandungnya.

Sesuai pesan Prabu Brawijaya, Dewi Penjaiin kemudian memerintahkan putrinya agar datang ke Majapahit, dengan membawa bukti tombak pusaka pemberian Prabu Brawijaya. Kedatangan Dewi Kemuning ke Majapahit, untuk mendapatkan pengakuan sebagai anak Brawijaya.

Namun ternyata, kedatangan Dewi Kemuning ke Majapahit malah membuat Prabu Brawijaya murka. Raja Majapahit itu tak mau mengakui kalau Dewi Kemuning itu putri kandungannya, dari hasil hubungannya dengan Dewi Penjalin.. (Bersambung)


Oleh : Imam S