
Diceritakan, ratusan tahun silam, di Dataran Tinggi Dieng, bermukim seorang dara jelita di sebuah istana yang demikian indah dan megah dikelilingi tanaman bebungaan yang mengeluarkan aroma surgawi dan segarnya udara, yang bernama Shinta Dewi.
Kecantikannya mengundang decak kagum siapa pun yang melihatnya, namun sayang, walau sudah dilamar oleh banyak pangeran, tetapi, belum ada satu pun yang berkenan di hatinya. Maklum, Shinta Dewi selalu menuntut mas kawin dalam jumlah yang sangat banyak, ltulah sebabnya kenapa banyak pangeran yang terpaksa mengurungkan segala niatnya....
Hingga pada suatu ketika, Kidang Gerungan, seorang pangeran yang kaya raya bermaksud untuk melamar Shinta Dewi. la yakin, dengan segala yang dimilikinya. Shinta Dewi pasti akan mau menerima pinangannya. Untuk itu, ia lalu memanggil orang kepercayaanya, "Sampaikan lamaranku pada Shinta Dewi," perintahnya.
"Dan katakan, aku sanggup memenuhi segala apa yang dimintanya," tambahnya lagi.
"Ampun pangeran, segala perintah akan hamba laksanakan sebaik-baiknya," jawab orang kepercayaannya itu seraya mohon diri untuk segera berangkat.
Singkat kata, sesampainya di istana Shinta Dewi, utusan Pangeran Kidang Gerungan pun menyampaikan maksud dan tujuannya. Dengan kata-kata yang halus dan takzim, salah seorang utusan pun berkata;
"Ampun, Tuan Putri, kami adalah utusan Pangeran Kidang Garungan yang sengaja datang untuk menyampaikan lamaran beliau."
"Ha ha ha… hai utusan, tak tahukah engkau sudah berapa banyak pangeran yang gagal memenuhi permintaanku? Lalu, berapa banyak mas kawin yang disanggupi oleh junjungan kalian untuk melamarku?" Tanya Shinta Dewi dengan sinis.
Sesaat keheningan menyungkupi balairung dan kemudian dipecahkan dengan suara, "Berapapun yang Tuan Putri sebutkan, Pangeran Kidang Gerungan pasti akan memenuhinya," jawab utusan itu dengan mantap.
Sesaat Shinta Dewi terdiam. Baru sekali ini ada pangeran yang nekat memberikan apa yang dipinta sambil sejenak mereka- reka ketampanan wajah Pangeran Kidang Gerungan.
"Jika dia kaya, pasti tampan dan gagah perkasa," demikian bisik hati Shinta Dewi. "Baik jika begitu aku terima lamarannya", demikian kata Putri Shinta Dewi mantap.
"Baik Tuan Putri, akan hamba sampaikan apa yang baru saja paduka katakan. Dan perkenankanlah kami untuk segera pulang," sahut utusan Pangeran kidang Garungan dengan nada gembira dan wajah yang cerah.
Ketika utusan tiba di istana, kidang Garungan pun mendengarkan berita itu dengan hati yang tak kalah gembira. ia pun menari-nari dengan gembira selama beberapa saat. Dan setelah itu, ia segera memerintahkan segala pejabat istana untuk mendampingi dirinya berkunjung ke istana Putri Shinta Dewi untuk membahas segala sesuatu yang berkatan dengan pernikahannya.
"Besok pagi-pagi sekali, kita berangkat bersama-sama," kata Pangeran kidang Garungan dengan lantang.
"Dan persiapkan segala sesuatunya dengan sempurna. Jangan sampai memalukan!" Tambahnya lagi. Sontak, seluruh pejabat kerajaan pun sibuk dibuatnya. Ada yang sengaja mempersiapkan mas kawin berupa mas, intan, berlian, sementara, di tempat lain ada pula yang mempersiapkan berbagai macam hadiah untuk Putri Shinta Dewi sedang para pengawal dan orang-orang kepercayaannya, mempersiapkan kuda terbaik yang besok bakal ditunggani oleh sang pangeran,
Esoknya, rombongan Pangeran Kidang Gerungan pun berangkat menuju ke Istana Putri Shinta Dewi. Singkat kata, sesampainya di sana, mereka disambut dengan amat meriah, aneka makanan dan hiburan tampil silih berganti namun, ketika Pangeran Kidang Gerungan bertemu dengan Putri Shinta Dewi, sang putri pun terkejut nyaris tak sadarkan diri.
Betapa tidak, alih-atih tampan, ternyata, Pangeran Kidang Gerungan adalah sosok yang berbadan manusia tetapi berkepala kidang.
"Ternyata Pangeran Kidang Garungan tidak sesuai dengan khayalanku," demikian bisk hatinya.
Tetapi nasi sudah menjadi bubur, walau amat kecewa, tetapi, ia sudah terlanjur menerima lamarannya. kini, yang ada dalam benaknya adalah mencari cara agar pernikahan itu tidak terjadi. Syarat itu pun didapat, dengan senyum manis, Putri Sinta Dewi pun berkata; "Wahai Pangeran Kidang Grungan, ketahuilah, kami mukim di daerah yang sulit mendapatkan air untuk keperluan sehari-hari. Untuk ltu, sempurnakanlah niat Kakanda dengan membuat sumur yang besar dan dalam. Dan dinda belum mau menikah sebelum sumur itu seiesai Kakanda kerjakan."
Pangeran Kidang Gerungan yang sudah mabuk cinta itu tak lagi berpikir panjang. Ia langsung saja berjanji dapat memenuhi permintaan bakal calon istrinya itu. "Baik Dinda, segala yang diminta pasti kakanda bakal penuhi," kata Pangeran kidang Garungan dengan mantap.
Untuk kedua kalinya Putri Shinta Dewi terhenyak. Mungkinkah ia mampu membuat sebuah sumur yang besar dan dalam itu dalam waktu singkat?
Pertanyaan ini tak jua terjawab sampai sang pangeran berangkat ke suatu tempat yang sengaja ditunjuknya untuk membuat sumur? Dengan kesaktiannya, tangannya dengan cepat dan tangkas menggali tanah dan sesekali ia pun menggunakan tanduknya untuk mengikis tanah yang demikian keras dengan tanpa mengenal lelah.
Rasanya lelah sulit untuk dirasakan oleh Pangeran kidang Gerungan yang bekerja dengan perasaan penuh cinta kasih ketika sumur hampir selesai, kepanikan kembali mendera Putri Shinta Dewi.
"Pangeran Kidang Gerungan ternyata sakti. Bagaimana jika ia benar-benar dapat menyelesaikan sumur itu?" gumam sang Putri.
"Ah, tidak. Aku tidak mau menikah dengannya. Aku tidak akan membiarkannya menyelesaikan sumur itu," tambahnya lagi.
Dengan cepat ia pun memerintahkan sebagian besar dayang dan pengawalnya untuk menimbun sumur itu. Pangeran Kidang Gerungan yang semula tak sadar kalau dirinya ditipu, baru tersadar ketika bebatuan dan tanah-tanah dari atas mulai menimbun dirinya. "Hai hai .. hentikan, hentikan.." Teriakan sang pangeran yang menggema itu semakin menambah semangat para dayang dan pengawal untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Mereka takut bakal mendapatkan hukuman dari junjungannya, Putri Shinta Dewi.
Saat seluruh tubuhnya mulai tertimbun tanah, Pangeran Kidang Gerungan pun langsung mengerahkan segala kesaktian yang dimilikinya. Tak ayal, sumur pun meledak dan mengamburkan tanah serta bebatuan kemana-mana.
Ketika tubuhnya sedang berusaha keluar, kembali timbunan tanah dan bebatuan berjatuhan mengenai tubuhnya. Hingga akhirnya, sang pangeran pun tewas tertimbun tanah di dalam sumur itu.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, ia pun bersumpah; "Putri Shinta Dewi, engkau telah menipuku.. ingat, semua keturunanmu bakal berambut gembel!" Sumpah yang menggetarkan kata itu terus mengiang sehingga menggeridikkan bulu roma siapa pun yang mendengarkannya, dan beberapa waktu kemudian baru hilang tertelan hembusan angin.
Sampai sekarang, kita masih bisa menyaksikan orang-orang berambut gembel yang konon merupakan keturunan dari Shinta Dewi, sementara itu, sumur yang meledak itu lama-kelamaan menjadi kawah yang dikenal dengan sebutan Kawah Sikidang.
Oleh : Indah Setyorini
majalah misteri majalah misteri cerita misteri kisah misteri majalah misteri cerita misteri kisah misteri majalah misteri cerita misteri kisah misteri majalah misteri cerita misteri kisah misteri majalah misteri cerita misteri kisah misteri