Menggali Kubur Diri Sendiri (2)


Sebagai gadis tua, aku memang tidak banyak kesibukan. Sesekali aku berjualan parfum keliling kampung, parfum buatan Paris yang dimodifikasi hingga harganya terjangkau bagi warga kami. Selain parfum aku juga dagang busana, tas dan sepatu merek Sofie Martin, MLM, yang telah aku geluti sebagai member setahun belakangan ini. Hasilnya lumayan, cukuplah untuk biaya hidup ku sendiri, gadis tua yang tidak punya keluarga lagi. Sama dengan Maryam dan Teguh Juwarno yang ditinggal mati orangtua.

Karena aku dipercaya untuk menjaga Maryam, maka aku betul-betul bertanggung jawab pada amanah yang Teguh percayakan. Setiap hari aku berada di rumah Maryam dan mengurusnya dengan telaten. Tapi untunglah, Maryam juga bisa memasak, maka itu bergantian denganku masak. Jika maryam masak, aku berbenah, menyapu rumah, mengepel dan membersihkan halaman. Jika aku yang memasak, sebaliknya Maryam yang berbenah.

Semua urusan rumah tangga, urusan Maryam rapi aku buat. Setiap malam Maryam mengaji, baca Al Qur'an dan tahajut setelah tidur. Namun setelah seminggu aku di rumahnya, Maryam tidak lagi sholat malam dan dia mengunci diri kamar tidurnya. Sedangkan aku, tidur di kamar bekas ibunya, seorang diri, sesuai permintaan Teguh Juwarno sebelum berangkat ke Brazil. Kamar tidurku dan kamar Maryam bersebelahan. Bagian tengah rumah mereka yang besar itu. Rumah di atas tanah seluas 800 meter, rumah yang berhalaman luas yang terdapat kolam ikan di sampingnya.

Karena penasaran, satu malam aku ketuk kamar Maryam dengan niat menyuruhnya sholat tahajut. Pada saat itu jam dinding menunjukkan angka 23.45 hampir tengah malam. Ternyata kamar Maryam kosong dan kamar itu ditutup tapi tidak terkunci. Aku mencari Maryam ke mana-mana, namun tidak aku temukan. Aku kembali lagi ke kamarnya dan menemukan secara kertas berbentuk surat yang ditujukan kepadaku. Kertas itu terletak di meja belajarnya, dengan tulisan huruf kapital semuanya.

"Kak, bila kakak menemukan surat ini dan mengetahui aku tidak ada di kamar, aku berada di makam ibu," tulisnya.

"Tengah malam ke makam? Apa yang dilakukan di makam dan untuk apa dia ke sana di kegelapan yang mengerikan ini?" tanyaku, dalam batin. Walau ada rasa takut, karena tanggung jawab sesuai amanah Teguh Juwarno, aku segera mengambil senter besar dan pergi ke makam Setu Lebak.

Dengan membaca doa aku melangkah menuju makam dalam kegelapan. Keadaan kampung sangat sepi, sunyi karena semua orang tertidur. Hanya ada aku sendiri menyusuri kegelapan menuju kuburan.

Seumur hidupku, baru malam itu lah aku ke kuburan di tengah malam. Aku lalu membayangkan banyak setan, kuntilanak dan hantu genderuwo di pemakaman malam itu. Tapi benarkah Maryam yang cantik itu ke makam ibunya? Apa maksud dan apa pula hal yang dilakukannya di makam ibunya itu? Pertanyaan membuncah beragam bayangan di benakku malam itu. Namun aku terus melangkah menuju Setu Lebak, pemakaman yang dikenal angker dan banyak ditakuti warga tersebut.

Senter ku terus membimbing aku menemukan jalan setapak menuju makam ibunya Maryam. Benar saja, setelah aku sampai di makam itu, aku melihat Maryam sedang duduk di dalam makam kosong yang digalinya beberapa waktu lalu. Matanya terpejam menghadap ke kiblat. Maryam sedang melakukan semacam semedi, tangannya dilipat di dada dan dia memejamkan matanya sambil berdzikir. Bibir nya komat kamit kecil membacakan Subhanallah, Alhamdulillah, Lailahaillallah, Allahhu Akbar. Dzikir inti itu dia ucapkan berulang hingga ribuan kali malam itu.

Aku tidak mau mengganggu maryam dan aku pun ikut berdzikir hingga pagi hari. Ketika adzan Subuh terdengar, barulah kami pulang dan sembahyang Subuh bersama di rumah.

Malam berikutnya, aku tertarik ikut serta berdzikir di dalam makam yang digali Maryam itu. Kami menggunakan karpet dan bantal pengganjal lalu kami berdua berkonsentrasi, berdzikir kepada Allah SWT, berserah diri dan menggantungkan diri secara total kepada-Nya.

Cinta kami hanyalah kepada Allah. Rasa hormat, rasa sayang Maryam hanyalah kepada Allah SWT dan hanya kepada Beliaulah dia mengabdi, berjuang dan meleburkan diri. Hingga saat ini, Maryam menjadi seorang sufi wanita, ahli tasawuf yang secara total bekerja di jalan Allah. Dia menjadi seorang ustadzah di Afganistan dan hidup di tengah masyarakat Taliban di negeri konflik tersebut.

Karena kedekatannya kepada Allah, Maryam saat ini menjadi juru penyembuh, mengobati orang terluka secara supranatural akibat perang. Maryam juga mampu membelokkan roket musuh dan mementahkan rudal, peluru mematikan itu mati sebelum mengenai sasaran. Maryam tidak menikah dan menjadi relawan di Afganistan. Dia bermukim di kota kabul, kota Meymanam dan juga Puscat. Lawan Maryam adalah para pembunuh sadis Amerika dengan senjata pemusnah massal canggih. Tentara-tentara kiriman negara luar yang manapun dilawannya, militer yang merangsang masuk Afganistan dan membunuh muslim di situ.

Sebelum berangkat ke Afganistan, maryam mengobati Bulek Parti, adik ibunya yang divonis mati oleh dokter. Setelah diobati, Bulek Parti yang tidak berpengharapan hidup, menjadi sembuh total dan kini sehat wal'afiat hidup bersama Maryam di Kabul Afganistan. Namun, pada saat saya menonton televisi

Al Jazirah, Arab Saudi, aku melihat wajah Maryam yang diwanacara dalam bahasa Arab. Namanya, Maryam Mahardhika, Maryam yang merdeka, yang hidup dalam sufisme dan mengerjakan amar ma'ruf nahi munkar di wilayah konflik itu.

Sementara itu, Teguh Juwarno berhasil mendapat restu menikah dengan Maimunah. Maryam telah meritual Habib Abdullah Al- habsyi yang keras, lalu berhasil melunak kepada Teguh Juwarno dan menikahkan anak mereka.

Kini, Teguh dan Maimunah tingal di Brazil dan Teguh menjadi staf kedutaan indonesia di Rio de Janeiro. Sementara aku, ditarik Teguh Juwarno ke Brazil dan membuka rumah makan Indonesia di Pantai Levina, Brazilia. Alhamdulillah rumah makan ku maju pesat dan semua warga indonesia dan orang Brazil yang pernah tinggal di indonesia, makan di restoran kami. Pekan lalu, Maryam dan Bulek Parti datang ke Rio De Janeiro dan kami jalan-jalan ke semua tempat wisata indah di Brazil.

Pada saat kami naik Gunung Andes di Chili, aku melihat bagaimana ilmu Maryam begitu tinggi. Dia mampu mengecilkan dirinya, menghilangkan dirinya, masuk ke dalam batang pohon. Suaranya ada, tetapi kami tidak dapat melihat sosoknya. Memang, sejak menjadi sufi wanita, begitu banyak kelebihan gaib yang dikuasai oleh Maryam.

Kemampuan supramistika hebat itulah yang membuat Maryam sangat digandrungi pasien di kota Kabul, Afaganistan. Selain mengobati orang sakit parah, Maryam juga mampu menyantet dan menahan santet. Baik santet tingat sedang maupun santet terberat, santet yang mematikan manusia dengan kekuatan jin. (Kisah ini dialami oleh Yusniar Van Barizilia)

Oleh : Henny Nawani | Misteri


majalah misteri majalah misteri cerita misteri kisah misteri majalah misteri cerita misteri kisah misteri majalah misteri cerita misteri kisah misteri majalah misteri cerita misteri kisah misteri majalah misteri cerita misteri kisah misteri