
SUNGGUH amat disayangkan, sampai sekarang, tak ada keropak atau catatan sejarah yang menuliskan dengan jelas sejak kapan senjata tusuk yang satu ini ada kecuali dari tutur yang berkembang di tengahvtengah masyarakat yang tak lekang dimakan zaman.
Hatta, di daratan Aceh, hidup seekor burung rajawali raksasa yang biasa disebut dengan "geureuda" yang setiap hari selalu menggasak semua jenis tanaman, tamak dan berbagai buah-buahan milik masyarakat. Gangguan burung perusak itu membuat masyarakat menjadi gelisah karenanya. Beragam perangkap yang digunakan untuk menangkap hancur tak berbentuk, sementara. beragam senjata tak mampu melukai apalagi menembus kulit sang geureuda. Boleh dikata, kala itu, dari hari ke hari, hidup dan kehidupan masyarakat Aceh benar-benar dalam ancaman maut.
Jeritan doa yang tiap saat dilantunkan kepada Allah SWT akhirnya terjawab. Nun jauh di sana, ada seseorang yang memiliki ilmu maqfirat besi sekaligus piawai dalam menulis kaligrafi setelah melakukan puasa yang berkepanjangan dan mendirikan sembahyang sunah serta berdoa dengan khusyuk, mulailah ia menempa besi pilihan dan mencampurnya dengan beberapa unsur logam hingga menjadi sebuah senjata tusuk yang dikenal dengan sebutan; Rencong!
Dengan senjata ini akhirnya sang geureuda pun tewas dan masyarakat kembali hidup dengan tenang dan damai.
Senjata tradisional yang memiliki bentuk sebagaimana huruf "L" atau lebih tepat mirip dengan kaligrafi "Basmallah" hal ini akan tampak dengan jeias jika kita mau memperhatikan secara teliti dari gagangnya yang melekuk kemudian menebal pada siku merupakan bentuk huruf Arab "aa". bujuran gagang adalah perwujudan dari huruf "Sin", lalu, bentuk lancip yang menurun ke bawah pada pangkal besi dekat dengan gagang adalah merupakan huruf "Mim" sedang lajur besi dari pangkal gagang hingga dekat ujung merupakan huruf "Lam", ujung yang meruncing dengan dataran sebelah atas mendatar dan bagian bawah yang sedikit ke atas berbentuk huruf "Ha".
Jadi, jika huruf-huruf tersebut dirangkai, maka, perwujudan kalimat Basmallah. karena menggunakan perwujudan dari kalimat Basmallah, maka, rencong hanya digunakan untuk berbagai hai yang bersifat teramat penting mempertahankan diri dari serangan musuh dan berperang dijalan Allah. Oleh karena itu jangan heran, di masa perjuangan karena merupakan simbol keberanian dan kepahlawanan selain membawa senjata lainnya, semua pejuang Aceh juga selalu membekali dirinya dengan rencong.
Jika kita mau merunut sejenak ke belakang. Temyata secara khusus, rencong memiliki dua tingkatan; yakni rencong yang sarungnya terbuat dari gading dan bagian bilahnya menggunakan emas murni - adalah rencong yang biasa digunakan oleh para raja atau sultan. Sementara, yang umum digunakan oleh masyarakat luas adalah menggunakan sarung yang terbuat dari tanduk kerbau atau kayu dan bilahnya menggunakan bahan kuningan atau besi.
Namun, secara umum, yang paling banyak dikenal oleh masyarakat di luar Aceh adalah Rencong Meucugek (meucungkek) … yang pada gagangnya terdapat suatu bentuk penahan yang dalam bahasa Aceh biasa disebut dengan cugek atau meucugek. Tujuannya tak lain, tidak mudah lepas akibat senjata tersebut telah bersimbah darah para musuhnya. Sementara. secara filosofi, rencong jenis ini bertuiuan agar tidak terjadi penghormatan yang barlebihan kepada sesama manusia, karena, kehormatan pada hakikinya hanya milik Allah semata - betapa tidak, jika rencong tersebut di sisipkan di pusat (bagian depan-pen), maka, si pemakai tidak akan bisa membungkuk lebih dalam karena perutnya akan tertekan oieh rencong tersebut. Begitu juga jika rencong tersebut di sisipkan di bagian pinggang.
Hal tersebut dapat ditafsirkan sebagai suatu bentuk pernyataan. Betapa dalam keseharian, nuansa keagamaan tak bisa dilepaskan dari gerak hidup dan kehidupan masyarakat Aceh.
Padahal tak hanya Rencong Meucegek, sebab, ada juga Rencong Meupucok yang pada bagian atas gagangnya terdapat ukiran logam yang biasanya terbuat dari emas murni. Oleh karena itu, rencong yang satu ini hanya biasa dipakai pada upacara-upacara resmi yang berhubungan dengan adat atau kesenian. Selanjutnya adalah Rencong Pudoi yang bercirikan gagang lebih pendek dan berbentuk lurus tidak sebagaimana rencong pada umumnya agaknya, karena bentuknya yang berbeda dengan yang lain, maka jenis yang satu ini lebih dikenal dengan sebutan Rencong Pudoi yang dalam bahasa Aceh mengandung arti; sesuatu yang masih kurang atau belum sempurna.
Dan yang terakhir adalah Rencong Meukuree - yakni rencong yang pada bilahnya terdapat hiasan yang berbentuk gambar bunga, ular, lipan dan lain sebagainya yang oleh pembuatnya ditafsirkan dengan beragam keistimewaan atau kelebihan. Seiring dengan perjalanan waktu, tegasnya, semakin lama atau semakin tua sebilah rencong, maka akan semakin banyak kuree yang terdapat pada bilahnya, dan kuree inilah yang dianggap menyimpan kekuatan magis.
Oleh : Bahroni