
Aku didekati oleh beberapa biawak besar penghuni Pulau Dili. Biawak itu mungkin mengira aku makanan enak yang siap untuk disantap. Namun, ketika aku menggerakkan kaki, puluhan biawak itu kabur kembali ke dalam hutan.
Aku teringat bagaimana sadisnya ikan hiu memakan temanku Mumtaz. Ada rasa trauma dan phobia yang sangat dalam bergeiayut dalam diriku. Betapa biadabnya hiu itu, sadis dan buas. memakan wanita remaja yang tak bersalah di depan mataku. Dan aku merasa sangat menyesal tidak bisa menolong Mumtaz, tidak bisa membantunya untuk menyalamatkan diri dari hiu yang ganas.
Matahari makin mencoreng menuju tengah langit. Aku berusaha bangkit untuk mencari air tawar dan makan. Tetapi makanan apa yang aku dapatkan di pulau kosong itu? Entahlah, namun aku harus bisa menemukan makanan.
Dengan tertatih aku berusaha berjalan ke dalam hutan. Meninggalkan pantai berpasir itu. Drum warna biru yang menolong menyelamatkanku, aku naikkan ke darat dan aku akan bawa ke mana pun aku tinggal. Drum plastik itu menjadi teman hidupku dan menjadi saksi bisu tentang kerasnya perjuangan ku untuk hidup.
Sesampainya di dalam hutan Pulau Dili, aku melihat sebuah rumah mewah bergaya bangunan Paseo De Garsia, berpilar empat, berukiran monotheis dengan gambar bintang di tengahnya. Aku mencubit tubuhku, men-check apakah aku bermimpi atau sedang benar-benar berada di alam nyata. Arkian, ternyata kulitku sakit aku cubit dan aku tidak sedang bermimpi. Aku masuk ke beranda rumah itu dan mengetuk. Seorang nyonya cantik dan muda, membukakan pintu dan mengajak aku masuk ke dalam.
Nyonya cantik yang memperkenalkan diri bernama Tiara Ratu Pandanwangi itu mengajak aku ke meja makannya. Meja makan dari batu marmer dan kursi kristal itu berisi banyak makanan, lauk pauk enak, buah-buahan dan kue-kue lezat.
Aku dipersilakan makan dan meminum minuman jus buah di meja indah itu. Aku lalu melakukan apa yang ditawrkan. Aku minum sepuasnya dan makan sepuasnya.
Setelah kenyang, aku diajaknya ngobrol di ruang tamu. Ruang tamu itu penuh dengan perhiasan emas, mutiara dan intan original. Lampu-lampu kristal mewah di atas ruang tamu itu, dengan sofa terbuat dari kulit beruang kutub.
Setelah berjam-jam aku ngobrol, Nyonya Tiara Ratu Pandanwangi memberikan ku beberapa kepingan emas, intan dan berlian di dalam se buah peti. Peti berwarna merah itu diserahkannya kepadaku dan harus aku bawa pulang. Setelah itu, dia memanggil sopi kapal yach yangjuga wanita, untuk mengantarkan aku ke Muara Binuangeun, Malimping, Banten Kidul.
Sopir yacht, kapal kecil bermesin bernama Nyimas Banowati itu mengantarkan aku meninggalkan Pulau Dili menuju Muara Binuangeun. Drum biru aku masukkan ke kapal dan Nyimas mempertanyakan tentang mengapa aku membawa drum itu. Setelah aku ceritakan, dia memahami dan tidak melanjutkan tanya yang lebih melebar kepadaku.
Setelah dua jam perjalanan laut, sampailah senja hari di Muara Binuangeun. Saat aku mau berpisah dengan Nyimas Banowati, gadis cantik itu memberikan amplop besar kepadaku. Katanya titipan dari Nyai Tiara Ratu Pandanwangi. Aku meniram amplop besar yang belakangan aku ketahui adalah uang berjumlah Rp 50 juta pecahan seratus ribuan untuk ongkosku pulang.
Aku mencium Nyimas dan diapun segera berlayar dengan wajah sedih. Karena angkutan sepi, aku mencari mobil sewaan untuk mengantarkan aku ke Jakarta. Sebuah mobil kijang inoya aku sewa Rp 2 juta mengantarkan aku ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta, aku ke toko mas Engkoh Wiliam di Senen dan Engkoh Wiliam meyakinkan aku bahwa emas yang kubawa emas murni 24 karat dan dianjurkan dijual ke PT. Logam Mulia.
Begitu juga dengan intan, mutiara dan berlian dan di dalam peti. semuanya asli dan bernilai jual Rp 5 milyar. Uang lima milyar aku berikan semuanya ke panti asuhan, anak yatim dan rumah jompo di Bogor. Aku tidak memegang sepeserpun uang itu karena pikirku, uang itu bukanlah hak aku, tapi hak orang miskin yang dititipkan Allah melalui Nyai Tiara Ratu Pandanwangi.
Mengetahui aku mendapatkan uang banyak, emas, intan dan berlian, abangku yang suka judi mengajak aku ke Pulau Dili. Dia ingin menemui Nyai Tiara Ratu Pandanwangi dan mau meminta uang. Selain uang, dia juga meminta emas, intan, mutiara dan berlian yang ada di rumah Nyai Tiara Ratu Pandanwangi.
Karena aku memang akan berangkat ke Meladewa setelah cuti, maka aku mau pamit kepada Nyai Tiara Ratu yang _baik hati. Aku berangkat bersama abangku ke Muara Binuangeun lalu menyewa kapal nelayan ke Pulau Dili. Arkian, ternyata rumah Nyai Tiara Ratu dan kapal yacht yang dikendalikan Nyimas Banowati, tidak ada lagi. Pulau Dili ternyata tidak berpenghuni dan rumah mewah serba kristal dan emas itu, tidak ada secara nyata.
Mbak ke dalam rumah itu sebenarnya masuk ke dalam kerajaan gaib. Di Pulau Dili itu ada kerajaan gaib Nyai Tiara Ratu Pandanwangi yang kaya raya. Nyai Tiara Ratu Pandanwangi itu adalah bangsa lelembut, bangsa jin laut yang menguasai pulau ini. Beliau hanya maujud untuk orang-orang pilihannya. Mbak pada waktu itu ditolong dan dijadikannya saudaranya. Tetapi, karena datang dengan motivasi uang, Nyai Tiara Ratu Pandanwangi, tidak mau maujud lagi. Abang Mbak ini, punya motivasi minta uang dan emas itu. Tetapi Nyai Tiara tidak mau memberi, maka itu dia tidak mau maujud," kata pemilik perahu nelayan yang mengantarkan kami, Kang Encep Nasarudin, warga Muara Biuangeun, yang sangat faham akan penghuni gaib Pulau Dili dan Pulau Tinjil itu.
Setelah sampai di Jakarta, abangku marah-marah dan jengkel kepadaku. Padahal aku tidak bersalah soal Nyai Rtau Tiara itu dan dialah yang ngotot untuk menemui.
Kini pada tahun 2013 ini, terakhir bulan Agustus lalu, aku terus didatangi Nyai Tiara Ratu pandanwangi, penguasa gaib Pulau Dili itu dan memberikanku uang di saat aku terdesak kebutuhan.
Sekarang ini, karena Pak Robert ditangkap polisi Phuket, Thailand akibat kecelakaan maut dan kapal tanpa ijin berlayar, maka aku tidak bekerja lagi di perusahaan Pak Robert di Maladewa. Aku menganggur di Maladewa dan bekerja sebagai penasehat spritual usahawan setempat.
Walau aku hidup miskin di negeri orang, namun setiap bulan purnama ke 14, Nyai Tiara Ratu Pandanwangi selalu datang kepadaku memberikan kepadaku uang dan emas. Dari Nyai pula, aku dapat membantu pengobatan warga Maladewa dengan cara- cara perdukunan. Bahkan, Alhamdulillah, aku dapat memberikan nasehat jitu dalam berbisnis. Setaip yang meminta nasehatku, usahanya maju pesat dan memberikan tanda terima kasih berbentuk uang kepadaku. Terima kasih ya Allah, terima kasih Nyai Tiara Ratu Pandanwangi.
Oleh : Tia Aweni D.Paramitha | Misteri
majalah misteri majalah misteri cerita misteri kisah misteri majalah misteri cerita misteri kisah misteri majalah misteri cerita misteri kisah misteri majalah misteri cerita misteri kisah misteri majalah misteri cerita misteri kisah misteri