
Lingkup pergaulannya pun juga berbeda. Yang dulunya tidak pernah berjudi, ia jadi rajin berjudi bola. Padahal sepakbola saja ia tidak tahu. Ia asal menerima tantangan taruhan pemenang sepakbola dari liga Itali, liga inggris, tiga Spanyol dan liga Champions. Sekali dua kali ia menang, tetapi pasti akan kalah yang lebih besar di hari kemudian.
Tak hanya judi bola, karena pergaulan yang salah, juga terjebak dalam judi kartu dan judi dadu. Karena judi inilah, ia jarang pulang ke ruko. Semua didelegasikan ke karyawatinya yang paling semok, cantik dan semlohai, Maribela namanya. Akhirnya terjalinlah hubungan yang kian intim dan intens di antara mereka berdua. Hal inilah yang mulai menimbulkan benih-benih konflik antara Pak Prakoso dan istrinya.
Puncaknya, mereka bercerai. Karena ada 3 ruko, akhirnya dibagilah menjadi dua, Pak Prakoso memegang rumah makan dan ayam, sedangkan istrinya memegang warung pecel.
Semua berjalan baik. Akhirnya rumah makan dan ayam Pak Prakoso diakuisisi oleh Maribela, sedangkan Pak Prakoso bersama istri barunya merantau ke Jakarta. Sedangkan mantan istri Pak Prakoso istiqomah degan usaha pecelnya.
Setelah Pak Prakoso meninggalkan Yogya dan pergi dari situ, tiba-tiba semua bisnis meredup, kian sepi dan akhirnya bangkrut.
Proses sebelum bangkrut, didahului, oleh banyaknya konsumenku yang menanyakan mengapa warung koran dan pulsaku sering tutup atau tidak pernah buka. Padahal aku selalu buka jam 8 pagi dan tutup jam 9 malam, libur hanya saat lebaran dan Idul Qurban saja, tetapi mengapa banyak pelangganku yang bilang warungku tutup?
Saat habis masa kontrak, Maribela dan mantan istri Pak Prakoso memilih mengundurkan diri dengan alasan warung sudah sepi. Sementara itu supermarket, justru dengan antusias memperpanjang kontrak lagi selama 5 tahun dikalikan seratus juta, jadi total lima ratus juta langsung dibayarkan oleh supermarket tersebut via transfer ke ibu pemiliknya. Setelah itu, tak berapa lama, aku didatangi pengusaha kaya, pengusaha nasional dari Semarang yang bisnisnya juga menggurita.
"Katakan ke yang punya rumah, aku sewa semuanya, termasuk toko kamu. Aku ganti semua asetmu, bagaimana?"
Untuk ketiga ruko silakan, tapi untuk toko saya jangan, di sini saya juga sewa." jawabku agak keras.
"Tolong hubungkan aku dengan pemilik tanah ini. Nih, telpon pakai hpku!" perintah wanita pengusaha yang mulai nampak arogannya.
Segera kuhubungkan wanita itu dengan pemilik tanah. Singkatnya terjadilah kesepakatan harga di antara mereka. Untuk tokoku, ibu pemilik rumah tak mengijinkan jika mau disewa, karena oleh pemilik rumah aku dijadikan kuasa untuk mengurus semua urusan.
"Jangan sekalipun ibu, mengusir Mas ini dari sini, selain menjaga, di sini hak dia juga sama, karena dengan saya dia juga bayar sewa. Meski ibu punya modal unlimited, tak terbatas. semua jangan dikukup dan dimonopoli, berikan ruang bagi orang lain untuk mencari rejeki," jawab ibu pemilik rumah diplomatis.
2 bulan kemudian 3 ruko direnovasi dan digabungkan menjadi satu. Awal- awal bulan langsung laris, tetapi setahun kemudian meredup dan sepi. Padahal semula semua laris, harga pun relatif murah, tempat strategis, masakan enak, fasilitas komplit, ada harga paket, ada promo, tetapi mengapa lantas jadi sepi?
Kemudian terjadilah malapetaka, salah seorang karyawan bagian delivery meninggal karena tertabrak truk saat mau mengirimkan pesanan. Tepat prediksi para tamu undangan sebelumnya saat pembukaan rumah makan setahun sebelumnya, tiba-tiba sang pemilik rumah makan langsung memberikan potongan ayam ingkung kepada karyawan delivery itu. saat itu para orang tua dan pejabat kampung yang diundang langsung berbisik, yang dapat potongan ayam ingkung itu pasti akan mati, dijadikan tumbal penglarisan rumah makan.
Seminggu sesudahnya, seorang gadis pramusaji rumah makan, mengalami kesurupan saat aku tidak ada. Katanya dia melihat nenek-nenek seperti Mak Lampir wara-wiri di dalam rumah makan.
Ibu pemilik rumah makan, berubah menjadi sosok yang galak. Sedikit- sedikit marah, bahkan ia mengajakku berkonfrontasi.
"Mas, kalau parkir jangan di wilayah saya, parkir di tempatmu sendiri."
"Mereka tidak parkir di tempat usaha ibu, mereka parkir pas di depan rolling pintu masuk toko saya. mereka juga datang, beli sebentar lalu pergi. lbu jangan asal ngomong."
"Baiklah kalau itu mau kamu, tunggu saja apa yang akan kuperbuat."
Aku tidak takut dengan segala ancaman dan intimidasi. Selama aku benar, aku tidak takut, bagiku ini jihad melawan fitnah yang tak semestinya. Sebulan kemudian, ibu pemilik ruko datang dan langsung menemuiku.
"Maaf Mas, kalau sewamu habis, besok kamu jangan sewa lagi, tempat ini mau disewa oleh ibu pemilik rumah makan semuanya."
"Jleghhh!" Aku kaget setengah mati. lni pasti dalangnya si ibu pemilik rumah makan.
"Ini memang bukan kemauanku, tetapi aku takut dengan ibu pemilik rumah makan ini."
"Tidak apa-apa, ibu tenang saja, toh sisa sewasaya masih 5 bulan lagi, ibu tenang saja, biar saya yang menyelesaikan. Sebentar saya telponkan ke pak Kyai."
Wiridlah "hasbunallah", cukup hanya Allah, sebanyak-banyaknya. Lalu berdoa, Rabbana atinaa min ladunka rahmah, wa hayi'lanaa min amrinaa rosyada, Ya Tuhan kami, berilah kami rahmat dari sisiMu, dan sediakanlah petunjuk untuk kami, dalam menyelesaikan urusan kami ini."
"Bacalah keduanya sebanyak- banyaknya, semoga Allah berkenan cepat memberikan solusinya."
"Ya sudah Mas, aku mau ke Jakarta lagi, baik-baik saja, nanti aku bantu doa."
Aku mengangguk. Si lbu pun segera beranjak masuk ke mobilnya. Aku amalkan wirid/dzikir dan doa itu. Esoknya si Ibu pemilik rumah makan memasang daun palem pas di atas pintu masuk rumah makannya dan memasang patung kodok dari tanah liat yang dari kejauhan bisa mengeluarkan cahaya berpendar di atas meja kasir.
Aku hanya bertanya-tanya untuk apa? Setelah itu, warungnya kian sepi, satu persatu karyawan keluar. salah seorang manajer di warung itu diam-diam menemuiku, lalu berkata.
"Kok aneh ya Mas, tiba-tiba rumah makan kami jadi sepi ada apa ya? Kata ibu, ada yang menutup tempat usaha kami, sehingga tadi ibu berusaha menetralisir dengan memasang daun palem, patung kodok dan membakar lirang/daun padi yang menguning yang dicampur garam lalu disiramkan di depan tempat berdagang. Kata ibu, tadi malam, tempat usaha ini, sudah dibuangi tanah dari kuburan oleh orang lain secara gaib. sehingga kelak akibatnya semua sepi, lalu mati semuanya, baik tempat usahanya ataupun para pelaku bisnisnya."
"Terimakasih Mas, aku nanti mau memperkuat ibadah kepada Allah saja." Semakin lama rumah makan itu makin sepi akhirnya habis kontraknya dan tak memperpanjang lagi. Sedangkan warungku, biasa saja sepertinya, padahal asetnya makin berkurang. Tak berapa lama, rukonya laku lagi, sekarang ganti disewa masakan seafood. Belum genap sebulan menyewa, salah seorang karyawan seafood tengah malam teriak-teriak tidak karuan karena tengah malam ia melihat sesosok nenek tua bergelantungan di atas eternit. Esoknya ia langsung minggat tak ijin kepada bosnya karena saking takutnya melihat penampakan nenek tua semalam.
Lagi-lagi yang semula warung makan masakan seafood laris, namun lama kelamaan makin sepi dan akhirnya kerjaan para karyawannya setiap hari hanya tiduran dan browsing internetan. Namun ada satu hal yang aneh semenjak rumah makan seafood berjualan, setiap hari selalu saja aku menemukan uang koin receh di halaman yang kusapu. Terkadang Rp 5, 25, 50 & 100, tak pernah ada yang Rp 500, uang apakah itu? Sesaat setelah menemukan uang, biasanya uang itu aku buang lagi ke tengah jalan.
Sehabis lebaran kemarin, rumah makan seafood sudah tutup, padahal kontraknya masih menyisakan 2 tahun ke depan, eman bukan? Si Bos seafood sepertinya sudah putus asa, dan memutuskan pindah ke lain tempat. Bagiku sendiri, aku masih merasa mengalami hal yang biasa. Hanya aset kian menyusut bahkan jika diaudit hasilnya pasti pailit. Lebih banyak hutang daripada piutangku di konsumen.
Aku gamang dengan posisiku saat ini. Maju terus tetap kena, mundurpun belum ada usaha yang lain. Padahal tahun depan, ibu pemilik tanah, sudah mengultimatumkan bahwa kontraknya menjadi Rp 50 jt/tahun. Uang dari mana nominal sebegitu besar?
Sekitar lebaran kemarin pun, teman- temanku yang dari berbagai kota, protes kepadaku, mereka bilang tak tahu keberadaanku di Yogya? Sebab menurut pandangan mereka, tokoku sudah tidak ada di Jalan Timoho.
Aku sendiri heran, tokoku masih berdiri tegar di Jalan Timoho, tetapi mengapa teman-temanku mengatakannya tidak ada? saat tulisan ini dibuat, baru saja aku dapat laporan dari pembeli, bahwa dia berbulan-bulan tak melihat adanya tokoku. Di Jalan Timoho itu, hanya nampak toko dengan rolling door yang tertutup rapat, nampak berdebu dan kelihatan sarang laba-laba dimana-mana. Barusan juga lagi-lagi ada kecelakaan, seorang gadis tertabrak motor, tak mati hanya darah berceceran.
Oleh : Pupun Widodo